SHARE

Peramalsakti.com – Millenium Stadium, Cardiff, bergemuruh pada Sabtu 3 Juni 2017 atau Minggu dini hari WIB. Puluhan ribu suporter bersorak, menyambut gembira kemenangan Real Madrid menjuarai Liga Champions musim 2016/17, usai mengalahkan Juventus dengan skor 4-1.

Kemenangan yang begitu manis bagi Madrid. Sebab, ini adalah keberhasilan Madrid juara Liga Champions yang kedua dalam dua musim beruntun.

Dengan demikian, Madrid berhasil mengakhiri kutukan Liga Champions. Ya, di era Liga Champions, memang belum ada tim yang mampu membawa pulang trofi dalam dua musim secara beruntun.

Madrid menjadi tim pertama yang melakukannya. Tentu, prestasi ini disambut gembira oleh seluruh elemen Madrid.

Kapten Madrid, Sergio Ramos, menyatakan keberhasilan mereka juara secara back to back tak didapat secara kebetulan.

“Sukses kami bukan kebetulan. Juara tiga kali dalam empat tahun di Liga Champions, sangat luar biasa,” kata Ramos seperti dikutip Soccerway.

“Kami sangat ingin menang dan meraih prestasi yang belum pernah ada. Menjuarai Liga Champions dalam dua musim beruntun, dan kami bisa melakukannya,” tegas dia.

Bukan cuma memecahkan kutukan, Madrid juga mengakhiri penantian panjangnya meraih status double winners.

Ya, ini adalah kali pertama Madrid menyandang status double winners dalam 59 tahun terakhir. Status double winners terakhir mereka sandang pada 1958 lalu.

“Kami bekerja keras untuk meraih double winners, dengan gelar LaLiga dan Liga Champions. Ketika ada di klub hebat, dengan pemain-pemain seperti ini, kami bisa bekerja dengan baik dan menciptakan hal yang luar biasa,” ungkap pelatih Madrid, Zinedine Zidane, dilansir Football Italia.

Satu Sentuhan Mematikan

Tak mudah bagi Madrid meraih gelar juara Liga Champions. Juve sempat membuat mereka merana di babak pertama.

Madrid memang unggul lebih dulu lewat sepakan terukur Ronaldo di menit 20. Tapi, gol spektakuler Mario Mandzukic membuat mereka sedikit panik.

Juve sempat mengendalikan jalannya laga. Permainan Madrid sama sekali tak berkembang.

“Kami bermain melawan Juve yang kuat. Kami benar-benar menderita di babak pertama,” terang Zidane.

Perubahan pun dilakukan Zidane di paruh kedua. Zizou meminta kepada anak-anak asuhnya untuk bermain lebih cepat.

Alhasil, permainan Madrid di babak kedua berubah. Tak ada lagi aksi individu yang ditampilkan. Para penggawa Los Blancos bermain dengan sistem satu-dua sentuhan.

Strategi ini berhasil membuat para pemain Juve bingung. Pertahanan mereka pun terbongkar dengan mudahnya.

Menariknya, empat gol yang bersarang ke gawang Gianluigi Buffon berasal dari sentuhan pertama para pencetak gol macam Cristiano Ronaldo, Casemiro, dan Marco Asensio.

Pemain Real Madrid, Cristiano Ronaldo, merayakan golnya bersama Dani Carvajal

“Saya memang berpesan ke pemain, jangan terlalu lama memainkan bola. Kami tahu bagaimana harus bermain, ketika mereka berlaga di babak kedua, terlihat begitu spektakuler. Empat gol yang kami ciptakan ke gawang Juve, melalui proses sulit,” kata Zidane.

Ronaldo mengakui inisiatif perubahan taktik dan nasihat Zidane di ruang ganti saat masa jeda, membuat para pemain Madrid menggila di babak kedua.

“Nasihat pelatih begitu positif. Dia sangat yakin kepada kami. Kemudian, di babak kedua kami membuktikan tim ini memang sangat bagus,” ujar Ronaldo.

Tatapan Kosong Buffon

Di tengah gegap gempita Madrid dan suporternya, ada sesosok pria yang hanya bisa menatap mereka berpesta. Tatapannya kosong, ketika melihat para pemain Madrid silih berganti berfoto bersama Si Kuping Besar.

Terkesan, penyesalan begitu dalam hinggap di dalam hatinya. Ya, sosok itu adalah Buffon.

Ini adalah kali ketiga Buffon gagal juara Liga Champions. Wajar, jika pria 39 tahun tersebut merasakan kekecewaan mendalam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here